tentang yang tlah lalu

Februari 3, 2009 at 7:11 am (son of star (?))

“Kita tak pernah berangkat dari tempat yang sama, dan karena itu kita tak boleh menangis saat akhir kita ternyata tak sama”

 

Dulu, saat baru beberapa langkah kaki kita menapak meninggalkan tempat kita dilahirkan, kita berhenti di sebuah persinggahan. Di sanalah kita bertemu ; saling berbagi segelas air, sepotong roti, dan berjuta kata-kata. Kau menghiburku dengan nyanyianmu sampai habis air mataku, aku bercerita sampai kau terlelap dalam tidurmu. Lalu dari sana, kita berjalan bersama. namun hanya sebentar, hanya satu atau dua malam. saat matahari mulai tampakkan sinarnya lagi dan bintang-bintang menghilang dari kaki langit…genggaman tangan kita pun terlepas.

lalu aku dan kamu berjalan di setapak yang berbeda. Kita bertemu banyak pejalan lain di jalan kita masing-masing…walaupun pada akhirnya mereka hanya datang dan pergi, seperti semua hal lain di dunia kita. masih, aku mencoba agar kau tetap berada di sudut mataku. walau sering pandanganku terhalang, mataku tertutup dan duniaku jadi gelap, tapi aku selalu berlari agar bayanganmu tetap terlihat.

Mungkin suatu saat nanti, aku kan jadi terlalu lelah untuk mengejar bayangmu. Mungkin suatu saat nanti, aku akan berhenti menyanyikan lagumu, seperti kau yang tak lag9i mengingat ceritaku. Mungkin memang jalan kita terlalu berbeda, hingga kau tak lagi bisa berpura-puramenjadi papan penunjuk arah di sepanjang jalanku. dan mungkin pada akhirnya nanti aku juga akan berhenti tumbuh sebagai rumput liar yang halangi langkahmu,

Tapi tak ada yang perlu disesali; tidak sekarang, tidak juga nanti. Walaupun tak pernah lagi kautemui gadis yang mengajakmu menamai bintang bersama…tapi kau pasti tahu, aku tlah menggoreskan namamu di bagian jantungku yang paling rapuh, dan takkan pernah kau pergi dari sana.

Permalink & Komentar

ini adalah akhirnya

Februari 3, 2009 at 6:34 am (son of star (?)) ()

Tutup saja tirai panggungnya. Taruh kembali bukunya di rak itu. Aku tahu aku salah saat mengira ada hal-hal yang bertahan selamanya. Tiap hal di dunia yang punya awalan pasti punya akhiran. Awal-akhir. Akhir-awal. Bagai dua sisi mata uang 25 rupiah. Semuanya sama-sama tak ada artinya. Hanya yang kekallah yang berarti pada akhirnya. Ah, bangsat. Klise yang membuat muntah-muntah.

Aku menolak untuk percaya bahwa kita tidak abadi. Kupikir semua hal bodoh yang terjadi pada mereka tak kan pernah menghampiri kita. Kupikir kisah kita adalah kisah cinta paling indah di dunia.

Ingatkah kau pada Agustus tahun itu? Kita bertemu dalam bodohnya dunia mIRC, saat aku dan kamu sama-sama bosan dan tak punya hal lain untuk dilakukan : kamu belum punya teman di Malang, aku menunggu loading warnet lemot sialan itu. Perang kata-kata dalam tempo cepat itu membuatku tersadar sejenak,, kita telah lama saling mencari dan itu adalah saat yang telah lama kita nantikan.

Kamu mengejarku, walau seringkali ragu-ragu. Dan aku selalu pura-pura bersembunyi. Aku takut. Obrolan-obrolan dini hari itu, tawa terbahak yang tak bisa ditahan itu, kata-kata yang memaksa terucap lebih dulu itu, cara berpikirmu dan cara berpikirku, sedihku yang perlu disuarakan dan umpatan randommu itu…semua kebetulan yang terjadi di antara kita… Aku hampir percaya kita telah lama saling mengenal, mungkin dulu, di suatu periode di masa kecil kita, dan kita terpaksa tumbuh bersama namun terpisah. Atau tidak, bukan seperti itu. Aku percaya bahwa ini semua telah diatur, bahwa kita diawasi dan di anggota tubuh kita terdapat jerat tali yang menggantung sebagai kendali, kita cuma boneka.

Dan kupikir karena itulah semuanya tak kan pernah berakhir…

Tapi ternyata aku salah. Sangat salah. Bagai makanan kalengan mahal yang biasa kaubeli di mall dan biasa kutertawakan, ada tanggal kadaluarsa yang gagal kuperhatikan ; aku terlalu percaya bahwa makanan basi tak bisa membunuh kita. Mungkin memang tidak, tapi cerita yang sudah saatnya usai bisa cukup menyiksa, setidaknya. Cukup lama aku melangkah sambil menghipnotis diriku sendiri pada bayangmu di ujung sana, bahwa akhir dari semua ini adalah tanganku dan tanganmu yang bertautan erat dan takkan telepaskan lagi. Tapi kau memang berada di ujung lain dunia, dan jarak di antara kita terlalu jauh. Tak ada kuda yang cukup gagah atau pesawat ruang angkasa yang masih utuh yang bisa membawaku ke sana.

Hanya ucapan ’selamat tinggal’lah satu-satunya hal yang pantas terucap kini. 

Dan tak ada yang perlu disalahkan karena akan sulit mencari-cari tokoh antagonis dalam cerita ini. Dan karena memang, beberapa cerita tidak ditulis untuk memiliki akhir yang indah.

Permalink & Komentar

hari ini, hampa

Januari 29, 2009 at 11:49 am (random, son of star (?))

hari ini, hampa…

langit dan bumi tlah lama tak lagi bercinta, dalam hatiku. tuhan yang baik pergi dan datang tertutup bayang-bayang. kelam.

hari ini, hampa…

sebuah sudut di jiwa-yang mungkin hanya freud yang tahu- butuh penjelasan (atau doktrinasi?) logika dan rasa terpaut, namun tak mampu kalahkan godaan yang datang bersama semilir angin. setan.

hari ini, hampa…

inginkan Dia di sini hari ini, tapi bukan dalam bentuk hukuman, seperti yang sudah-sudah. teringat mimpi. takut oleh masa lalu. tidak, aku tak peduli. aku hanya inginkan hari ini.

hari ini, hampa…

inginkan dia di sini hari ini, tapi bukan untuk pergi lagi. tlah sadar akan semua bodohku, lacur yang tak lagi bisa diperbaiki. tanpanya duniaku tak kan pernah utuh lagi.

hari ini, hampa…

ah, tapi di benaknya namaku pasti hanya tinggal sejarah! untuk dikenang dan dijadikan pelajaran, tapi dilalui tanpa ada maksud untuk kembali. aku jadi ingin shalat malam lagi, memohon padaNya untuk mengembalikannya lagi. tapi masihkah?

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Marcous groupies & Sagan wannabes

Januari 22, 2009 at 5:05 am (another world) (, , )

 

Masih bermimpi basah tentang Subcomandante Marcos, pemimpin pemberontakan pembebasan suku Indian Meksiko (EZLN). Ksatria (bandit?) yang bersembunyi di balik balaclava, pipa, boneka ‘pinguin’ jadi-jadian, humor tidak lucu, surat-surat gelap, novel anak-anak dan gaya menulis yang sangat membunuh. Modern day Che? Bisa jadi. Yang jelas paduan karakternya sudah cukup lengkap untuk membuat wajahnya dicetak di kaos-kaos yang dikenakan remaja-remaja di jalan-jalan di kota-kota besar. Ha-ha-ha.

 

Masih mencoba menjadi (kloning paling gagal dari) Carl Edward Sagan. Ilmuwan-novelis Pulitzer yang membuat sains serenyah kacang goreng (atau setidaknya begitulah kata mereka). Alien exist. Time travel is possible. Dan sci-fi rules.

 

Bangsat. Kenapa menulis fiksi jadi susah sekali sih? Pubertas mematikan imajinasi L

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

reruntuhan

Januari 9, 2009 at 5:00 am (another world, random) ()

Dan tanpa peringatan

Semua kan hancur

 

 

Apa yang kau lihat setelah semuanya usai?

Hanya reruntuhan

Tapi mungkin kita kan bisa menari di sana

Sambil sedikit mengenang masa-masa

Yang hampir terlupa

 

Disinilah tempat orang tua kita dulu bercinta

Menenun harapan dan air mata

Dan disinilah juga semua kan berakkhir

Napasku dan napasmu tertahan

Dalam jeritan Izrail

 

Tapi sudahlah…

Lupakan apa yang telah dan

Akan terjadi

Dalam kehampaan ini

Mari sekali lagi kita bercinta

 

 

 

                                                            Malus domestica, Gedung Bhakti Persada

                                                            Universitas Ma Chung

                                                            Ditulis saat ujian IC, bosan sangat!!!

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar