ini adalah akhirnya

Februari 3, 2009 at 6:34 am (son of star (?)) ()

Tutup saja tirai panggungnya. Taruh kembali bukunya di rak itu. Aku tahu aku salah saat mengira ada hal-hal yang bertahan selamanya. Tiap hal di dunia yang punya awalan pasti punya akhiran. Awal-akhir. Akhir-awal. Bagai dua sisi mata uang 25 rupiah. Semuanya sama-sama tak ada artinya. Hanya yang kekallah yang berarti pada akhirnya. Ah, bangsat. Klise yang membuat muntah-muntah.

Aku menolak untuk percaya bahwa kita tidak abadi. Kupikir semua hal bodoh yang terjadi pada mereka tak kan pernah menghampiri kita. Kupikir kisah kita adalah kisah cinta paling indah di dunia.

Ingatkah kau pada Agustus tahun itu? Kita bertemu dalam bodohnya dunia mIRC, saat aku dan kamu sama-sama bosan dan tak punya hal lain untuk dilakukan : kamu belum punya teman di Malang, aku menunggu loading warnet lemot sialan itu. Perang kata-kata dalam tempo cepat itu membuatku tersadar sejenak,, kita telah lama saling mencari dan itu adalah saat yang telah lama kita nantikan.

Kamu mengejarku, walau seringkali ragu-ragu. Dan aku selalu pura-pura bersembunyi. Aku takut. Obrolan-obrolan dini hari itu, tawa terbahak yang tak bisa ditahan itu, kata-kata yang memaksa terucap lebih dulu itu, cara berpikirmu dan cara berpikirku, sedihku yang perlu disuarakan dan umpatan randommu itu…semua kebetulan yang terjadi di antara kita… Aku hampir percaya kita telah lama saling mengenal, mungkin dulu, di suatu periode di masa kecil kita, dan kita terpaksa tumbuh bersama namun terpisah. Atau tidak, bukan seperti itu. Aku percaya bahwa ini semua telah diatur, bahwa kita diawasi dan di anggota tubuh kita terdapat jerat tali yang menggantung sebagai kendali, kita cuma boneka.

Dan kupikir karena itulah semuanya tak kan pernah berakhir…

Tapi ternyata aku salah. Sangat salah. Bagai makanan kalengan mahal yang biasa kaubeli di mall dan biasa kutertawakan, ada tanggal kadaluarsa yang gagal kuperhatikan ; aku terlalu percaya bahwa makanan basi tak bisa membunuh kita. Mungkin memang tidak, tapi cerita yang sudah saatnya usai bisa cukup menyiksa, setidaknya. Cukup lama aku melangkah sambil menghipnotis diriku sendiri pada bayangmu di ujung sana, bahwa akhir dari semua ini adalah tanganku dan tanganmu yang bertautan erat dan takkan telepaskan lagi. Tapi kau memang berada di ujung lain dunia, dan jarak di antara kita terlalu jauh. Tak ada kuda yang cukup gagah atau pesawat ruang angkasa yang masih utuh yang bisa membawaku ke sana.

Hanya ucapan ‘selamat tinggal’lah satu-satunya hal yang pantas terucap kini. 

Dan tak ada yang perlu disalahkan karena akan sulit mencari-cari tokoh antagonis dalam cerita ini. Dan karena memang, beberapa cerita tidak ditulis untuk memiliki akhir yang indah.

2 Komentar

  1. frozenmenye2 berkata,

    konsekuensi logis dari sebuah pertemuan : perpisahan….
    simple but hurts…. :)
    anyway, salam kenal dari frozzy

  2. ceritalangitmalam berkata,

    iya, tapi tetep aja penolakan terhadap realita masi sering terjadi, apalagi bwat jiwa2 yg menolak tumbuh dewasa :D salam kenal juga, frozzy. may i visit ur blog or sumtin, please?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.